Makassar, 20 February 2018

Aktivitas Tambang Merusak Lingkungan Wisata Dan Membuat Kampung Bencana Oleh Abrasi

5 - Feb - 2018 | 18:13 | by: JP_mks Redaksi
Aktivitas Tambang Merusak Lingkungan Wisata Dan Membuat Kampung Bencana Oleh Abrasi

Takalar, JPM–Ingin bertamasya melihat panorama pantai yang kaya dengan pasir besi, perikanan dan sentra lumbung pangan yang ada di Sulawesi Selatan. Salah satunya, berkunjunglah ke Desa Tamasaju, Kecamatan Galesong Utara, di Kabupaten Takalar.

Hanya 45 menit dari bandara internasional Sultan Hasanuddin dengan menyusuri jalan tol menuju Barombong, selatan kota Makassar. Disepanjang jalan kita akan disuguhi hamparan sawah nan hijau jelang momen hari kasih sayang atau valentine day.

Posisinya yang berada di pesisir utara Kabupaten Takalar. Desa Tamasaju memiliki dua potensi alam yang cukup besar, yakni laut dan pertanian. Namun jangan salah, dibalik dua potensi alam tersebut. Unggas sekelas ayam dan itik pun terlihat mesra dan akur. Makan bersama diatas endapan pasir besi pantai yang terbentang di Desa Tamasaju.

Dengan luas wilayah sekitar 137,50 Km2. Desa Tamasaju mempunyai letak yang sangat strategis karena sebagai lintasan darat dan laut yang menghubungkan kabupaten dan provinsi.

Daeng Tobo, warga Desa Tamasaju mengaku, kampungnya dulu ramai dikunjungi warga yang ingin menikmati pesona pantai dan hasil laut. Apalagi sejak dibangunnya Tempat Pendaratan Ikan (TPI) pada 2014 lalu.

“Tapi belakangan ini sejak maraknya tambang pasir laut, dan sebelumnya ada aktivitas tambang pasir besi yang sempat dilarang. Suasana kampung kita (Tamasaju) seperti kampung bencana. Abrasi sudah di depan mata. Bahkan tempat benih udang di belakang rumah saya hancur karena abrasi yang jauh lebih dasyat dari tahun-tahun sebelumnya,” kata Daeng Tobo Minggu 3 Februari 2018.

Lanjut Daeng Tobo, dengan nada suaranya yang datar. Sudah sebanyak 3 pohon kelapa yang usia tumbuhnya belasan tahun depan rumahnya. Ia tebang, lalu potong-potong hanya untuk dijadikan penyangga dari terjangan ombak yang akan menghantam dinding rumahnya yang berada di pesisir pantai Tamasaju.

“Belakangan ini jika malam tiba, apalagi kondisi hujan disertai angin kencang. Pokoknya diatas pukul 23.00 WITA saya sudah susah tidur. Sebab air hempasan gelombang laut sudah menggenangi halaman rumah kami. Dan saya tidak berani jauh dari keluarga di rumah, meski ada tawaran pekerjaan proyek bangunan,” ucap Daeng Tobo yang kesehariannya berprofesi tukang kayu.

Hendra, kerabat Daeng Tobo mengaku, sangat menyayangkan lambannya perhatian semua pihak atas abrasi hebat yang melanda Desa Tamasaju.

“Tanggul yang kita buat swadaya itu hanya bertahan dua tahun. Artinya sudah sangat jelas bahwa abrasi bukan hanya teori dan ucapan belaka. Tapi sudah mengancam kehidupan warga di Desa Tamasaju, khususnya kerabat kami yang rumahnya sangat rentan dari abrasi,”jelas Hendra.

Menurut Hendra, idealnya Pemkab Takalar melalui satker terkait seperti BPBD sudah sigap. Terkait apa yang dirasakan warga desa yang sudah resah terkait abrasi. “Paling tidak sudah ada posko bencana atau lainnya, jika sewaktu-waktu emergency,”kata Hendra.

Sementara itu, Daeng Puji yang juga isteri Daeng Tobo mengaku, sebelumnya pejabat lingkup Pemda Kabupaten Takalar hanya datang dan pergi begitu saja. Usai melihat pemandangan kampung yang dulunya ramai dikunjungi wisatawan, kini berubah jadi kampung bencana oleh abrasi.

 

Rahmayadi


BERANDA | RSS 2.0 | KATEGORI: Berita Terkini,Berita Utama,FOTO,Lingkungan,Video | Both comments and pings are currently closed.

Comments are closed.

Kategori Berita Terkini

Kategori Berita Utama

Kategori FOTO

Kategori Lingkungan

Kategori Video